HP KU HILANG


by : Otomo

Langit cerah dengan sedikit awan yang berlabuh. Deburan ombak menuntun langkah kakiku untuk menyusuri pantai indah itu. Aku sebenarnya bukan sudah tidak waras karena di siang bolong yang terik itu berjalan di pantai yang seolah-olah membakar kulitku dengan hanya mengenakan celana jeans, jaket, topi dan sebuah tas ransel. Aku sedang mencari handphoneku yang jatuh ketika tadi aku jalan-jalan dipantai. Apes… banget deh.
Aku memang pergi ke pantai ini sendirian karena aku butuh ketenangan sejenak dari tekanan pelajaran disekolah. Namun ternyata nasib sial menghampiriku dan entah mengapa aku bisa seceroboh ini membiarkan kantung celanaku bolong. Padahal seumur-umur aku tidak pernah membiarkan baju atau pakaianku sampai bolong begitu. Huft!
Mungkin aku harus merelakan hape itu berpindah tangan. Mau bagaimana lagi coba? Aku sudah tidak tahu harus mencari kemana lagi. Bisa jadi hapeku sudah dijual atau diganti nomornya oleh orang yang menemukan hapeku. Apa aku harus ke kantor polisi saja ya?
Dari pada aku capek mengukur pantai di tengah terik seperti ini, akhirnya aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke kantor polisi terdekat. Dengan mengenakan motor matic-ku aku pacu kendaraanku menuju POLSEK ***** ********. Sesampainya disana aku mematikan motorku dan memarkirnya ditempat parkir. Aku melihat ada beberapa orang polisi yang sedang berbincang di meja piketnya. Tiga orang tepatnya.
“Pemisi pak. Saya mau melapor”. Aku menghampiri mereka bertiga.
“Ya dek, ada apa? Silahkan duduk”. Salah seorang polisi yang agak tua mempersilahkan aku duduk.
“Pak Hendra, anda di panggil Pak Rahmat”, seorang polisi muda yang gagah dan tampan keluar dari dalam kantor polisi itu dan menyampaikan pesan atasannya.
“Oh baik, Gung. Kalau begitu kamu urus dia”, sambil melirik kearahku.
Kayaknya setan deh yang mencuri hape-ku. Siapa lagi yang bisa mengatur pertemuanku dengan Briptu Agung R. Fitriandi yang tampan, gagah dan kekar itu kalau bukan si setan penggoda imanku. Melihat polisi itu saja lubang duburku sudah cenat-cenut apalagi kalau sampai kami berduaan didalam kamar.
“Ada yang bisa saya bantu, dek?”, tanya Briptu Agung padaku yang sejak kedatangannya, aku sudah terbengong-bengong.
“Eh, anu pak… Emmhh “. Kok aku gugup begini yah? Aduh…
“Bawa masuk kedalam saja Gung. Tadi aku dengar dia mau melaporkan sesuatu”, kata salah seorang polisi yang duduk dimeja piket.
“Oh… Ayo dek silahkan masuk kedalam saja”.
Aku pun mengikuti langkah kaki Polisi Agung untuk masuk kedalam kantor. Didalam, aku ditanya-tanya seputar laporan kehilangan hape-ku. Sebenarnya aku tidak berkonsentrasi saat menjawab beberapa pertanyaan Briptu Agung karena mataku sibuk memandangi wajah tampannya yang maskulin abis…
Rambutnya cepak, kulitnya coklat tetapi tidak terlalu coklat dengan tinggi 185 cm dan berat proporsional. Tubuhnya berisi dan padat. Kayaknya seragam coklat khas polisi yang dia kenakan itu terlalu ngepas di badan gagahnya.
“Kamu baik-baik saja kan, dek Bayu?”, tanya briptu Agung membuyarkan lamunan nakalku terhadapnya.
“Ya Pak, baik-baik saja”.
“Kalau begitu kita langsung ke TKP saja. Mungkin hape kamu masih berada disekitar pantai. Ayo!”, ajaknya.
Kami berdua pun akhirnya menuju pantai dengan mengendarai motor masing-masing. Jam ditangan Briptu Agung sudah menunjukkan pukul tiga sore. Meski begitu kami masih berniat menyisir pantai dan mencari hapeku. Briptu Agung beberapa kali melakukan panggilan ke nomor hapeku dan ternyata masih aktif. Inilah yang menjadi harapan kami untuk meneruskan pencarian.
“Masih aktif hape kamu. Kayaknya belum diketemukan orang”.
“Iya pak. Kayaknya begitu”.
Briptu Agung memutuskan untuk menghentikan pencarian karena kami sudah tidak tahu harus kemana lagi mencari hapeku. Aku pun hanya bisa berjalan lemas sambil menuju motorku.
“Kamu mau kemana setelah ini Bay?”, tanya Polisi itu.
“Mau cari penginapan saja Pak. Mau pulang juga nggak mungkin karena hari sudah sore. Aku takut kalau ada apa-apa dijalan. Mana aku nggak punya hape buat ngasih tahu orang rumah”. Aku menaiki motorku.
“Bagaimana kalau kamu menginap saja dirumahku. Kebetulan aku ngekos sendiri”.
Seketika aku seperti diceburkan kekolam semangat mendengar tawaran Briptu Agung. Aku tidak percaya kalau dia mau mengijinkan aku menginap dirumahnya.
“Beneran nih pak? Nanti aku merepotkan bapak, lagi”.
“Nggak kok. Nyantai aja. Ayo ikut aku”.
Kami pun menuju ke kosan Briptu Agung. Sebelumnya Briptu Agung singgah sebentar di tepi jalanan menuju rumahnya untuk membeli beberapa gorengan tahu isi dan tempe.
Tak lama kemudian sampailah kami di kosan Briptu Agung yang tidak terlalu besar. Aku dipersilahkannya masuk.
Setelah makan dan mandi, kami pun duduk didepan TV dan menyalakannya untuk menonton beberapa acara yang mungkin dapat menghibur.
“Bapak sudah lama tugas disini?”, tanyaku.
“Jangan panggil aku bapak dong. Panggil saja aku abang. Aku kan baru 27”.
“Iya Abang… hahaha…”. Aku tertawa padanya supaya mencairkan suasana.
“Kalau orang tuamu khawatir, gimana Bay?”.
Aku terdiam sejanak. “Aku lupa nomor orang rumah bang. Oh, iya aku boleh buka FB di tablet abang nggak? Aku mau lihat nomor teman didekat rumahku. Mungkin dia bisa dimintai bantuan untuk memberitahukan keadaanku pada ayah atau ibu dirumah”.
“Ini pakai aja”. Bang Agung menyerahkan tabletnya kepadaku.
Aku mulai membuka FB dan mencari nomor telepon Susan, tetanggaku. Setelah ketemu akhirnya aku catat menggunakan hape bang Agung dan menelpon Susan. Aku minta Susan kerumahku sebentar dan memberitahukan kalau aku tidak bisa pulang malam ini. Akhirnya aku bisa bernafas lega juga.
“Gimana Bay? Sudah?”.
“Sudah bang. Untung saja aku ingat kalau Susan mencantumkan nomor hape di akunnya. Makasih ya Bang…”. Aku menyerahkan kembali tablet bang Agung.
“Iya Bay, sama-sama”.
Kami pun ngobrol sambil nonton TV. Bang Agung ternyata belum punya pacar lho. Aku sempat kegirangan juga mendengarnya. Karena seorang polisi gagah dan setampan bang Agung mustahil sekali jika tidak memiliki pacar. Kecuali kalau dia seorang… hehehe.. Apaan sih lu, Bay? Ngaco lu!
Tetapi entah mengapa obrolan kami tiba-tiba menjurus ke persoalan seks.
“Abang Cuma ngocok aja kalau lagi horny. Mau ngentot sama pacar, pacar nggak punya. Mau nyari cewek ‘jualan’, takut penyakit”.
“Abang pernah nggak diisep?”, pancingku.
“Di isep…??? Hmpppp… Belum Bay. Hehe…”.
Aku perhatikan posisi kontol dibalik celana boxernya sudah ngaceng dan tampaknya cukup gede juga.
“Enak lho bang kalau kontol diemut. Apalagi kalau yang ngemut pandai banget nyepongnya. Pasti abang bakalan ketagihan entar”. Aku sengaja memancing bang Agung.
“Abang jadi ngaceng nih Bay. Kamu harus tanggung jawab nih”. Dia memegang kontol dibalik celananya yang sudah menggunung.
“Bayu harus bertanggung jawab apa bang?”, tanyaku.
“Abang terima enaknya aja deh”.
Tanpa menunggu permintaan yang kedua, aku segera mendekati bang Agung dan menundukkan kepala kearah selangkangannya. Aku tatap mata bang Agung untuk memberi tahu bahwa aku mau melakukan apa yang dia mau. Tanpa ragu aku mulai menjilati penis bang Agung yang masih tersimpan dibalik celana boxernya. Lidahku aku julurkan dan aku sapukan turun naik di penis bang Agung. Celana Boxer polisi itu pun basah akibat liurku.
“Argghhhh… Uh….. Ternyata begini enaknya disepong. Uhhhh… Terus Bay!! Argghhh!!!”. Bang Agung tidak henti-hentinya menggeliat-liat dan mendesah keenakan.
Aku gigit-gigit pelan cetakan kontol bang Agung dari balik boxernya dan sesekali aku belai-belai dada bidangnya yang masih terbalut baju kaos. Bang Agung kemudian melepas bajunya sehingga tampaklah dadanya yang berisi dan perutnya yang six pack dihadapan mataku. Sungguh tampan sekali polisi gagah ini.
Acara TV tidak kami tonton lagi. Mulutku masih sibuk saja mengecup, menggigit dan menjilati celana boxer yang mencetak penis bang Agung. Aku rasakan betapa besarnya kontol dibalik boxer itu. Aku semakin penasaran ingin segera mencicipi kontol bang Agung didalam mulutku. Ah.. Bayu, cepetan dong sepong kontol bang Agung. Udah nggak tahan nih.
Tanganku mulai mengurut-urut cetakan kontol bang Agung. Aku resapi betapa keras dan besarnya penis polisi itu dengan sentuhan ujung jariku. Aku raba batang penisnya yang keras lalu kembali aku sapukan lidahku dibatang kontol bang Agung yang masih tersembunti didalam boxer itu.
“Auhhhhh… Ah….. OOOhhhhhh….”.
Slupprrhhhh… hmmmmm….
Akhirnya, karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku pada bentuk kontol bang Agung, aku pun segera menarik boxer bang Agung dan tampaklah CD-nya yang berwarna putih. Dia mengangkat kakinya untuk mempermudah aku melepas boxernya. Sekarang polisi tinggi dan gagah itu hanya mengenakan CD di hadapanku. OMG… Seksi sekali polisi ini. Aku jadi horny berat dibuatnya.
“Ah… Bay, kita ke kamar aja ya. Abang udah gak tahan nih”.
Aku menggangguk dan bangkit berdiri. Sementara bang Agung juga ikut berdiri dan langsung mematikan TV dan merangkulku untuk masuk kekamarnya. Sesampainya didalam kamar, aku langsung diciuminya dengan mesra sambil tangannya mencopoti pakaianku satu per satu hingga telanjang bulat.
“Bay, isep kontol abang sekarang”, pintanya setelah melepaskan ciumannya.
Segera aku belutut di selangkangan bang Agung dan mulai melepas CD putihnya. Wow! Sebuah benda bulat, besar dan mengacung keatas menyapa bibirku. Ukurannya sekitar 19 cm dan terlihat begitu gemuk. Langsung saja aku masukkan kontol hangat itu kedalam mulutku dan oh… enak sekali rasanya. Uhhhhh
“Enak… Bay. Kamu hebat sekali nyepongnya. Kamu… Ohhh…. Hebat!”, puji bang Agung.
Aku isap kepalanya yang besar. Aku putar-putar lidahku di sana kemudian aku dorong sekuat tenaga kepalaku hingga terasa ujung kontol bang Agung menyentuh kerongkonganku. Ada rasa asin-asin gurih ketika lubang kencing bang Agung menyentuh lidahku. Hmmpp.. gurih banget. Aku keluarkan batang itu dari dalam mulutku kemudian aku masukkan lagi dan begitulah seterusnya untuk beberapa saat.
Bang Agung menatap wajahku yang sangat bersemangat menyepong kontol besarnya. Dia elus-elus kepalaku dan sesekali dia juga mendorong bagian belakang kepalaku untuk lebih dalam memasukkan batang penisnya didalam mulutku.
“Ohhhh… Ohhh… Yeah… ah….. ahhhhhh”, desahnya.
Tanganku yang menganggur tak bisa diam tanpa berbuat sesuatu. Aku mulai menjamah kedua buah zakar bang Agung dan aku tarik-tarik seolah-olah memerah susu sapi. Buah zakar bang Agung cukup besar. Aku yakin didalamnya menyimpan berjuta galon pejuh yang siap muncrat didalam mulutku.
Plop! Aku tarik keluar kontol bang Agung lalu kemudian aku kocok penisnya. Dengan kedua jempolku aku buka lubang kencing bang Agung kemudian aku masukkan ujung lidahku kedalamnya. Hmmmpppp.. enak banget rasanya. Aku sedot-sedot lubang kencing bang Agung dengan sesekali aku kenyot kepala kontolnya.
“Enak kan bang?”, tanyaku iseng.
“Sumpah enak baget Bay. Lagi Bay… Uhhhh”.
Aku kembali mengulum kontol bang Agung kemudian mulai memaju mundurkan kepalaku untuk menyepongnya. Hangat sekali kontol polisi gagah ini. Urat-urat kontolnya yang terasa di lidahku benar-benar membuat aku lupa daratan. Aku tidak mempermasalahkan lagi tentang hape-ku yang hilang asalkan aku bisa mengisap kontol Polisi segagah bang Agung. Kalian aja nggak pernah kan nyepong kontol Polisi? Berarti aku beruntung dong? Hehe…
Buah zakarnya yang menggantung bebas aku kulum bergantian. Aku tarik-tarik menggunakan mulut sambil sesekali aku kenyot.
Kembali aku memainkan penis bang Agung dengan lidahku. Kepalanya aku jilat seperti es krim sementara batangnya yang tegak keatas aku kocok menggunakan tanganku. Aku emut kepalanya, aku jilati lubang kencingnya lalu aku seruput pelan-pelan penuh perasaan. Sesaat kemudian, kepalaku sudah aku tekankan maju untuk melahap semua batang kontol bang Agung. Memang terlihat rakus dan susah memasukkan batang sepanjang itu tetapi aku tidak peduli meskipun pada akhirnya hanya sebagian kontol bang Agung yang bisa bersarang didalam mulutku.
“Uhhh… Bay… abang…. Uhhhh”.
Kayaknya dia mau keluar deh.
“Tunggu bang. Abang kan belum ngentot aku. Jangan keluar dulu”, cegahku.
“Ngentot? Kamu mau abang entot?”.
Tanpa banyak bicara aku langsung mendorong tubuh bang Agung ke ranjang hingga dia telentang. Aku merangkak dan memposisikan kontolnya didepan anusku. Dengan perlahan-lahan aku mulai memasukan kontol gedenya ke dalam duburku. Aku sengaja tidak memberi pelicin pada anusku agar semakin seret untuk kontol bang Agung. Dan akhirnya, bless…. Seluruh kontol besar milik bang Agung amblas kedalam duburku. Aku menarik nafas sejenak sebelum kemudian aku mulai menurun naikkan pantatku untuk memberikan kontol bang Agung sebuah surga dunia.
“Arkkk… seret banget Bay! Ahhhh… uhhhhh….”.
Aku semakin liar dan tak terkendali. Kami akhirnya sama-sama lepas dan dia pun meminta aku mencium bibirnya. Kami pun saling melumat dan bertukar air liur. Aku benar-benar suka polisi ini.
Lubang pantatku terasa penuh oleh kontolnya. Aku benar-benar puas dengan kontol bang Agung. Ahhh… enak banget. Aku ketagihan dibuatnya. Dengan cepat aku genjotkan pantatku turun naik seperti menunggang kuda.
Aku resapi kehangatan benda bulat itu menjejal anusku. Aku putar-putar pinggulku kemudian aku tarik keatas sampai kontol bang Agung hanya tersisa kepalanya saja yang tertanam didalam anusku kemudian aku buat dinding anusku agak mengejan-ejan agar seolah-olah meremas kepala kontol bang Agung. Oh… benar-benar dahsyat. Lalu aku kembali menekankan kontol itu masuk semakin dalam… Dalam… Dalam… dan dalam… dan tertancaplah seluruh kontol bang Agung didalam anusku.
Puting susuku yang menganggur tidak disia-siakan bang Agung. Sambil aku menggenjotkan anusku, dia dengan nakal menjilati dan mengisap putingku secara bergantian.
Puas bermain putting. Aku kembali menciumi bibir bang Agung sambil kedua tanganku mengelus dan meraba-raba dadanya yang bidang. Duburku aku tarik hingga Plop! Terlepaslah kontol bang Agung dari dalam anusku.
“Lho, kenapa Bayyyy?”, protes bang Agung.
“Bayu pengen abang yang ngentot”.
Aku bertukar posisi dengan bang Agung. Setelah aku sudah telentang dan kaki diangkat ke atas, bang Agung mulai meposisikan kontolnya ke bibir anusku dan blesss…. Sekali lagi aku tersentak ditusuk oleh kontol besar milik bang Agung. Tanpa ragu sedikitpun dia kembali menggnejotkan pinggulnya untuk menjejal lubang anusku dengan kontolnya.
“Ahhhh… Ihhh… Konthol… Ahhh… abanghhh…. Keras banget… Bayuhhhh… Sukah….”.
Clok-clok-clok!
“Setan! Enak banget ngentot cowok… Ahhh… lubang kamu enak banget. Abang suka… ahhh….”.
“Kalau suka di enjot yang kenceng dong”, tantangku.
Tanpa ragu bang Agung mulai menusuk duburku dengan tempo yang cepat dan semakin cepat. Aku terengah-engah menerima hujaman kontolnya dan begitu pula dengan bang Agung yang tampak berkeringat dan ngos-ngosan. Hingga tiba-tiba. Aku rasakan tubuh bang Agung mengejang dan kontolnya mengembang. Tak salah lagi, dia mau muncrat!!! Tak lama kemuidan, dia pun keluar didalam anusku.
Crooottt… crooottt… crrooottt…
“ARGGGHHHHH… OOOHHHHH… AAAARGGHHHHH… AHHHHHHH… HOOOSSSTTTT… UHHHHHHHH… AHHHHH”, erangnya.
Cukup banyak sperma yang masuk kedalam duburku. Sperma milik seorang polisi tampan dan perkasa yang aku sukai.
Perlahan-lahan tusukan kontol bang Agung mulai melemah dan akhirnya dia ambruk keatas tubuhku dengan kontol yang masih menancap dianusku.
Malam itupun kami lewati dengan acara ngentot. Aku hitung ada empat kali bang Agung muncrat sepanjang malam itu. Aku benar-benar kewalahan dibuatnya.
*** 
Pagi harinya aku yang sedang mencuci motor agak kaget melihat hape-ku yang ternyata tersimpan di jok motor. Waduh, ternyata hape-ku tidak hilang melainkan aku yang lupa sudah menaruh hape-ku didalam jok motor. Bang Agung aku beri tahu mengenai ini dan dia hanya tertawa mengetahui hal itu.
“Hahaha.. Mungkin sudah takdir, kamu dipertemukan dengan aku. Kalau bukan karena hape hilang, mana mungkin tadi malam abang nusuk kamu, Bay”.
Iya juga tuh. Hehehe… Terserah lah! Yang jelas semanjak malam itu aku pun sering ML dengan Bang Agung dan kami pun saling menyayangi. Pokoknya kontol bang Agung Top Markotop Deh… Ahhh.. uh… oh… auhhhh….

Selesai.,

0 komentar: