Kisah Fizkar

Seminggu ini rasanya aku selalu
tersenyum. Belajar lebih semangat
meskipun konsentarsi belu terfokus.
Khayalanku tidak lagi terlalu
mengembara. Paling-paling aku cukup
membagi konsentrasiku antara belajar
dengan mengingat kebaikan Fizkar di
sekolah. Aris? Lupakan dulu! Ia bukan
untukku ...
“Besok kita ke Monas, yuk!” tawar
Fizkar di kelas padaku. Hari itu hari
Sabtu.
“Mau apa ke sana?” tanyaku polos.
“Yah, rekreasi lah ... kan libur!” bibirnya
sengaja dimonyongkan. Lucu! Tapi
tetap jantan ...
“Mahal?” tanyaku lugu. Belasan tahun
di Jakarta aku baru sekali ke Monas.
Itu program MOS waktu aku baru
masuk SMA ini. Saat itu dipungut
bayaran cukup besar karena ada tiga
tempat yang dikunjungi. Lubang Buaya,
Museum Teknologi, dan Monas. Aku
tidak tahu harga tiket masing-masing
tempat.
“Gratis! Kita nggak usah masuk ke
dalamnya cukup duduk-duduk di
taman. Ongkos gue yang tanggung!”
Fizkar memainkan alisnya. Oke
tampan! Aku tak akan menolak
ajakanmu! Apalagi kamu janji akan
menjemput. Wah, laksana puteri raja ...
Minggu ...
Aku sudah berada di halte bersama
Fizkar. Secara tidak sengaja aku
melihat Aris sekelebatan. Ia
membuntuti kami? Kuharap Fizkar tidak
melihatnya. Aku tak ingin terjadi
kekerasan antara keduanya.
Bus yang ditunggu datang.
Fizkar membimbingku duduk di kursi
belakang. Kulihat Aris muncul dari balik
gang. Ia sudah tahu kalau aku hari ini
dengan Fizkar hendak ke Monas.
Kami duduk dekat jendela. Fizkar
merengkuhku penuh kasih. Masih
ngerikah aku dengan orang seperti ini?
Sepanjang jalan ia menyebutkan
nama-nama wilayah yang dilewati bus
yang kami tumpangi. Seperti seorang
guide terhadap turis asing. Aku sangat
berterima kasih. Meski tidak langsung
hafal tetapi aku sudah pernah tahu
wilayah-wilayah yang selama ini
hanya bisa sekadar aku dengar.
Satu jam dalam perjalanan kurasakan
kepalaku mulai pusing. Perutku mulai
berontak. Aku mabuk perjalanan.
Kebiasaan yang sangat memalukan! Ini
salah satu penyebab aku tidak suka
berpergian ...
“Mau muntah, Ro?” tanya Fizkar saat
melihatku pucat dan berkeringat dingin.
Aku mengangguk lemas. Fizkar
mengajakku turun. Tujuan kami masih
jauh. Namun, aku lebih nyaman kalau
segera turun dari bus ini.
Kami turun di sebuah halte. Lega sekali.
Perasaan ingin muntah agak
berkurang. Fizkar mengeringkan dahi
dan leherku dari keringat. Lembut.
Untung tidak ada orang lain di halte itu.
Perjalanan dilanjutkan kembali setelah
aku benar-benar merasa baik.
Di monas ...
Kami mencari tempat yang paling
teduh dan jauh dari keramaian orang
yang juga sedang bersantai. Fizkar
merapatkan tubuhnya yang hangat.
Aku menikmatinya. Akh ... kami seperti
orang yang berpacaran. Apakah Fizkar
tidak menyadarinya?
“Ro! Boleh gue cerita banyak tentang
diri gue ke elo?” tiba-tiba Fizkar
berbicara berbisik. Aku mengangguk
dengan beribu tanya. Fizkar
merebahkan kepalanya di pangkuanku.
Diraihnya tanganku dan dibimbingnya
supaya membelai kepalanya yang
ditumbuhi rambut keriting pendek. Aku
menyayanginya. Kubelai.
Fizkar sama seperti aku. Dia anak
ketiga dari tiga bersaudara. Namun,
kakaknya lelaki semua. Abangnya
yang pertama meninggal dunia karena
over dosis saat berusia sembilan belas
tahun. Abangnya yang kedua masuk
penjara akibat terlibat pembunuhan
terhadap rekan kerja abangnya yang
sulung, yang menurutnya telah
menyeret abngnya ke dunia obat-
obatan terlarang. Ayahnya tidak kuat
menghadapi semua itu hingga sakit
dan meninggal. Ibunya setahun
kemudian menyusul ayahnya. Fizkar
diasuh pamannya, adik ayahnya. Saat
itu ia berusia sebelas tahun.
Sejak itu Fizkar menjadi anak yang
pendiam. Padahal sebelumnya ia
dikenal sebagai anak yang banyak
bicara dan selalu bergerak. Perubahan
ini berlangsung hingga ia masuk SMP.
Pamannya sengaja menyekolahkannya
di sekolah yang jauh dari rumah orang
tua Fizkar. Tujuannya untuk
menghindari Fizkar berteman dengan
anak-anak yang mengetahui episode
hitam keluarga tersebut.
Suatu hari dalam perjalanan pulang
sekolah ia diisengi oleh sekelompok
siswa STM. Ia yang sendirian tiba-tiba
dibekap dari belakang oleh salah
seorang di antara mereka. Yang lain
memegangi tangan dan kakinya. Ada
juga yang menelanjanginya hingga
bugil. Tak berhenti di situ, salah
seorang di antaranya mempermainkan
kontol Fizkar dan mengocoknya hingga
muncrat. Mereka meninggalkan Fizkar
sambil tertawa-tawa. Bara dendam
muncul di dada Fizkar. Suatu hari ia
berjumpa dengan anak STM yang
mengocok kontolnya. Ia menghajar
dan membuat kepalanya bocor. Hanya
dengan tangan kosong.
Ia diamankan di kantor polisi. Ia tidak
mau menceritakan kejadian yang
sebenarnya. Malu. Parahnya, anak STM
itu justru memberikan kesaksian
seolah-olah ia diperlakukan seperti itu
tanpa ada sebab atau kesalahan yang
ia lakukan. Fizkar menginap dua hari di
kantor polisi. Pamannya
menjemputnya tanpa berbicara
dengannya sama sekali. Fizkar menjadi
semakin pendiam.
Fizkar dikeluarkan dari sekolah akibat
kasus tersebut. Ia dimasukkan
pamannya ke sebuah SMP milik
sebuah yayasan yang cukup terkenal.
Sayangnya, masalah kembali datang.
Seusai mata pelajaran olahraga saat
berganti pakaian, anak ketua yayasan
yang sekelas dengannya membuat
masalah. Kontol Fizkar dipegang-
pegangnya di depan beberapa teman
yang lain. Fizkar marah. Dipelintirnya
tangan anak itu hingga menjerit. Cerita
yang beredar hingga patah. Dalam
kesaksian, keempat teman yang
berada di tempat kejadian
menyebutkan bahwa Fizkar memaksa
meminta uang pada anak itu. Karena
tidak diberi, Fizkar memelintir
tangannya. Fizkar tidak mau
menceritakan yang sebenarnya. Lagi-
lagi karena malu.
“Mengapa kamu tidak ungkapkan
kejadian yang sebenarnya?” tanyaku
penasaran.
“Elo pikir mereka akan percaya? Gue
nggak punya saksi yang menguatkan
alasan gue. Gue sendirian. Orang masih
lebih suka mengaitkan gue dengan
kedua abang gue. Mereka bilang dari
tampang gue udah kelihatan
penjahatnya! Padahal orang yang gue
beri pelajaran itulah biang keroknya.
Homo-homo sialan!” makinya. Aku
langsung membuang muka. Aku juga
homo, Fiz! Rutukku dalam hati.
“Gue akan hajar orang yang macem-
macem sama kontol gue! Kontol gue
itu hal yang paling pribadi. Kalau ada
yang mau macem-macem ke kontol
gue berarti dia harus berhadapan
dengan ini!” Fizkar mengepalkan
tangannya. Kepalan seorang petarung.
Aku jadi gelisah. Lalu hubungan
apakah yang terjadi antara aku
dengan kamu saat ini, Fiz?
“Elo nggak usah takut, Ro! Gue
memang punya penampilan seperti
berandalan. Tapi menghadapi orang
yang lembut seperti elo, gue bisa
lembut juga ...” ucapannya memang
sudah terbukti.
Lalu bagaimana dengan harapanku
terhadap kontol Fizkar? Haruskah
berakhir seperti dengan Aris?
Kedekatan antara dua lelaki tetapi
tanpa aktivitas seksual. Aku homo
sejati! Tak mungkin aku bertahan
dengan persahabatan seperti itu ...
“Kita mutar-mutar, yuk!”
Fizkar bangkit berdiri. Dengan ujung
mataku kuperhatikan tonjolan di depan
celananya. Terlihat sangat
menggunung. Menggairahkan!
Akh! Harapan itu kembali punah ...
“Fiz ...” sebutku. Fizkar tak jadi
melangkah.
“Ada apa , Ro?”
“Kamu tahu kan kalau aku homo?”
tanyaku berat. Fizkar tertawa.
“Tahu! Sekali lihat gue tahu elo
hombreng ... ha ... ha ....” tawanya
membuatku perih.
“Terus ... kenapa elo masih mau
berteman dengan gue?” tanyaku ingin
kepastian.
“Memang elo teman gue?” ungkitnya.
Degggh ... lalu apa?
“Maaf, ... aku ke-ge er-an. Aku pikir
kamu menganggapku teman ...”
pedihnya ...
“Elo bukan teman gue ... tapi ... pacar
gue, Ro!” aku menatapnya sendu.
Bukan waktunya bergurau ...
“Pacar? Kamu mau pacaran dengan
hombreng?” kugunakan istilah yang ia
pakai.
“Kaum homo orang-orang yang tersisih.
Gue juga tersisih. Kenapa gue nggak
membahagiakan orang yang senasib
dengan gue?”
“Kamu kan tak akan mau memberikan
milikmu yang paling pribadi ...
sedangkan orang-orang seperti aku
sangat menginginkannya ...” Hueksss ... www.ceritagay.uiwap.com 
malu juga berbicara seperti itu. Namun,
aku tak ingin memungkiri. Tak ada
homo yang tidak menginginkan kontol!
“Maksud elo ini ...?” Fizkar memegangi
kontolnya yang masih terbungkus
celana. Aku menunduk. Memalukan
sekali. Rendah kamu, Ro!
“Akan tiba waktunya ... tapi nggak
sekarang! Gue benci orang-orang yang
melecehkan gue sebelumnya. Mereka
mengincar kontol gue buat dilecehkan.
Elo bayangin laki-laki dikocok
kontolnya tanpa bisa melakukan
perlawanan. Mereka yang melihat
hanya tertawa. Bagimana kalau hal itu
terjadi pada diri mereka sendiri? Masih
bisa tertawa?” wajah Fizkar mengeras.
Aku memahami. Betapa hancurnya
laki-laki jika dilecehkan dan
ditertawakan ...
“Sabar, ya Ro! Gue pasti jadi milik elo ...” Fizkar memegangi pundakku.
Mencium pipiku. Untuk yang kesekian kalinya.
Semoga

0 komentar: